Para Muballigh Kajian Ramadan di Masjid Al-Hikmah: Adab Puasa dan Hal yang Harus Dihindari


Batam, sidikfokus.id - Pada hari Sabtu15 Maret 2025 setelah selesai melaksanakan ceramah masing masing di mesjid diberbagai tempat di Batam Kota di dalam bulan suci Ramadan pada saat ini Masjid Al-Hikmah kembali menjadi pusat kajian keislaman yang sarat ilmu dan hikmah. Kajian bertajuk "Adab dan Hal-Hal yang Dihindari dalam Puasa" menghadirkan sejumlah ulama dan dai terkemuka di Kota Batam, mengupas secara mendalam hakikat puasa dari berbagai aspek, baik adab maupun larangan yang dapat mengurangi bahkan membatalkan pahala ibadah ini.


Sejak pagi, para jamaah dari berbagai latar belakang telah memadati masjid dengan antusiasme yang tinggi. Kaum santri, mahasiswa, akademisi, serta tokoh-tokoh agama duduk bersila di saf-saf yang tertata rapi, siap menyimak wejangan dari para pemateri. Suasana hangat penuh ukhuwah terpancar dalam wajah mereka, mencerminkan semangat menuntut ilmu sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan penuh berkah.


Ustadz Hasanuddin, yang bertindak sebagai moderator, membuka kajian dengan mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan proses pensucian jiwa. "Bulan Ramadan bukan hanya tentang tidak makan dan minum, melainkan tentang pengendalian diri. Sabar, ikhlas, dan ketaatan adalah kunci utama dalam menjalankan ibadah ini," ucapnya dengan suara yang lantang namun penuh kelembutan.


Dalam sesi pertama, Ustadz Ahmad Alawi menyampaikan pentingnya menjaga lisan dan anggota tubuh dari segala bentuk perbuatan yang dapat merusak nilai puasa. Ia mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, menegaskan bahwa berbohong dan berkata dusta dapat membuat puasa sia-sia di mata Allah. Dengan gaya penyampaian yang tenang namun mengena, beliau mengingatkan bahwa hakikat puasa tidak hanya ada pada aspek fisik, tetapi juga dalam kebersihan hati, ucapan, dan perbuatan.


Ustadz Muhri, yang dikenal dengan retorikanya yang tajam, menambahkan bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus karena lalai menjaga adab. Dengan mengutip sabda Rasulullah SAW dari HR. Ibnu Majah, ia mengajak jamaah untuk lebih berhati-hati dalam bersikap selama Ramadan. "Puasa yang hanya menahan lapar dan haus tanpa disertai penjagaan hati dan lisan adalah seperti kapal yang berlayar tanpa arah," katanya.

Di tengah kajian, seorang muballigh senior bernama Ustadz Muhidi bertanya dengan nada yang menggugah, "Bagaimana jika kita diundang makan saat berpuasa? Bukankah menolak bisa menyakiti perasaan tuan rumah?"


Menjawab pertanyaan itu, Ustadz Naim Payumi mengulas hadis Rasulullah SAW dari HR. Muslim yang menyebutkan bahwa ketika seorang Muslim diundang makan dalam keadaan berpuasa, hendaknya ia memberi tahu dengan santun bahwa ia sedang berpuasa. "Ini bukan sekadar jawaban, tetapi bentuk penghormatan terhadap tuan rumah tanpa mengurangi keutamaan ibadah kita," ujarnya, diiringi anggukan setuju dari para peserta.


Suasana semakin khidmat ketika pembahasan berlanjut ke pentingnya doa berbuka puasa. Ustadz Ahmad Alawi membacakan doa yang biasa Rasulullah Tinggi SAW panjatkan saat berbuka. Suaranya yang lembut membawa ketenangan, seolah membimbing para jamaah untuk lebih meresapi makna berbuka sebagai momen penuh syukur.


Sesi kedua kajian dibuka dengan pembahasan sahur. Ustadz Hasanuddin menjelaskan bahwa jarak antara waktu sahur Rasulullah  SAW dan azan subuh adalah sekitar seukuran bacaan lima puluh ayat Al-Qur’an. Sementara itu, Ustadz Naim Payumi menekankan bahwa meskipun sahur tidak wajib, namun sangat dianjurkan karena di dalamnya terdapat keberkahan. Dengan senyum khasnya, ia berkata, "Jangan pernah tinggalkan sahur, meski hanya seteguk air. Sebab di dalamnya ada kekuatan yang Allah berikan."


Ustadz Munidi, dengan gaya bicara yang berapi-api, menekankan pentingnya menyegerakan berbuka puasa. Ia menjelaskan bahwa ini bukan hanya sunnah Nabi SAW, tetapi juga memiliki manfaat medis. "Jangan menunda berbuka. Rasulullah SAW mengajarkan untuk segera mengakhiri puasa saat waktunya tiba. Ini bukan hanya soal ibadah, tetapi juga kesehatan tubuh," ucapnya dengan penuh semangat.

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Muhri bercerita tentang ulama salaf yang begitu menjaga waktu berbuka hingga rela berbuka di pasar demi menunaikan sunnah ini tepat waktu. Kisah tersebut mengundang senyum dan kekaguman dari para peserta.


Menjelang akhir kajian, Ustadz Ahmad Alawi kembali mengingatkan bahwa puasa sejati adalah perisai dari segala keburukan. Dengan nada penuh wibawa, ia membacakan sabda Rasulullah SAW dari HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang pentingnya menjaga sikap saat berpuasa. "Jangan biarkan lisan dan perilaku kita merusak ibadah. Jika ada yang mengajak bertengkar, cukup katakan, 'Aku sedang berpuasa,'" pesannya dengan mata yang berbinar.


Diskusi semakin hidup dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari hukum berbuka dengan kopi hingga bagaimana menjaga kesabaran saat menghadapi orang-orang yang sengaja menguji emosi selama Ramadan. Setiap pertanyaan dijawab dengan bijak oleh para pemateri, membuat jamaah semakin antusias dan tak ingin sesi ini segera berakhir.


Saat kajian berakhir, wajah-wajah para peserta tampak berseri. Ilmu yang didapat bukan hanya memperkaya pemahaman, tetapi juga membangun kesadaran bahwa puasa adalah ibadah yang memiliki dimensi fisik dan spiritual yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Para jamaah pun beranjak pulang dengan hati yang lebih siap menyambut bulan Ramadan, membawa pulang hikmah yang akan menjadi bekal dalam menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik. (Yanti/Nursalim Tinggi)

Lebih baru Lebih lama